16 Gubernur DKI dari Masa Ke Masa (1945-2012)

Gubernur DKI dari Masa Ke Masa (1945-2012)

1. Suwiryo (1945 1947)

 








Raden Suwiryo terhitung pemimpin Jakarta pertama. Suwiryo yang kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, pada 17 Februari 1903 ini merupakan tokoh pergerakan seperti Jong Java, Partai Nasional Indonesia, Partai Indonesia, Jawa Hokokai dan Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

Kariernya di Jakarta dimulai saat pendudukan Jepang pada Juli 1945. Saat itu yang menjadi Walikota DKI adalah tokoh Jepang, Tokubetsyu Sito. Suwiryo menjadi Wakil Walikota pertama, sedangkan Wakil Walikota kedua adalah Baginda Dahlan Abdullah. Saat itu, Sunaryo melakukan nasionalisasi pemerintahan dan kekuasaan kota secara diam-diam.


Saat Jepang takluk pada Sekutu Agustus 1945, dan berita tentang itu ditutup-tutupi, Suwiryo dengan berani menanggung segala akibatnya untuk menyebarkan berita itu pada warga Jakarta dalam suatu pertemuan. Dia ikut mendorong dwitunggal Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah merdeka, Suwiryo ditunjuk Bung Karno sebagai Walikota Jakarta pada 23 September 1945. Saat Sekutu yang ditumpangi NICA mendarat kembali di Indonesia, Suwiryo diasingkan ke Semarang, Yogyakarta pada tahun 1947-1949. Saat itu jabatan dipegang sementara oleh Daan Jahja. Kembali ke Jakarta pada 1949, Bung Karno mengangkatnya kembali menjadi Walikota Jakarta pada 17 Februari 1950 sampai 1951. Suwiryo meninggal pada 27 Agustus 1967 karena sakit. Suwiryo dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.


2. Daan Jahja (1948 1950)

 







Daan Jahja memegang tampuk pemimpin sementara saat Suwiryo diasingkan. Daan adalah gubernur militer Jakarta setelah sebelumnya menjadi Panglima Divisi Siliwangi. Selama memimpin Jakarta dia menghadapi pemberontakan Kapten Westerling yang tidak menerima terhadap penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia. Pada awal 1950, Jakarta menghadapi masalah administrasi dalam masa transisi dari pemerintah kolonial ke pemerintah NKRI. Dan Daan berhasil membenahi masalah itu.

Daan yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 5 Januari 1925 ini wafat pada 20 Juni 1985, tepat saat Idul Fitri 1405 H, sepulangnya dari Masjid Sunda Kelapa setelah melaksanakan salat Ied.
3. Suwiryo (1950 1951)


[imagetag]

Periode ke 2
Sebagai Walikota Jakarta

4. Syamsurijal (1951 1953)


[imagetag]

Kebijakan yang cukup terkenal pada masa kepemimpinannya adalah mengenaimasalah listrik. Walau begitu, ia juga memberi prioritas pada masalah air minum, pelayanankesehatan, pendidikan, dan kebijakan atas tanah. Guna mengatasi masalah listrik yang sering padam, Sjamsuridjal membangun pembangkit listrik di Ancol. Adapun untuk meningkatkan penyediaan air minum, dia membangun penyaringan air di Karet, penambahan pipa, peningkatan suplai air dari Bogor. Di bawah pemerintahan Sjamsuridjal, bidang pendidikan juga mendapat perhatian. Ia mendukung pengembangan Universitas Indonesia.

5. Sudiro (1953 1960)


[imagetag]

Sudiro dikenal sebagai Walikota (Jabatan setara dengan Gubernur pada saat itu) Jakarta untuk periode 1953-1960. Pria kelahiran Yogyakarta, 24 April 1911 ini mengeluarkan kebijakan pemecahan wilayah Jakarta menjadi tiga kabupaten yaitu Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Ia juga yang mengemukakan kebijakan pembentukan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Kampung (RK) yang kemudian menjadi Rukun Warga (RW). Ia meninggal pada tahun 1992.

6. Dr. Soemarno (1960 1964)


[imagetag]

Pada masa kepemimpinannya, selain dibangun Monas, Patung Selamat Datang, dan Patung Pahlawan di Menteng, juga dibangun rumah minimum. Konsep rumah minimum ini adalah rumah dengan luas 90 meter persegi, dibangun di atas tanah 100 meter persegi, terdiri dari dua lantai, lokasinya dekat dengan tempat kerja. Proyek pertama rumah minimum dibangun di Raden Saleh, Karang Anyar, Tanjung Priok, dan Bandengan Selatan.

7. Henk Ngantung (1964 1965)


[imagetag]

Tugu Selamat Datang yang menggambarkan sepasang pria dan wanita yang sedang melambaikan tangan yang berada di bundaran Hotel Indonesia merupakan hasil sketsa Henk. Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno dan design awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta. Henk juga membuat sketsa lambang DKI Jakarta dan lambang Kostrad. Lukisan hasil karya Henk antara lain adalah Ibu dan Anak yang merupakan hasil karya terakhirnya.

8. Dr. Soemarno (1965 1966)


[imagetag]

Periode ke 2

9. Ali Sadikin (1966 1977)


[imagetag]

Ali Sadikin adalah gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Di bawah kepemimpinannya Jakarta mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan buah pikiran Bang Ali, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dll. Bang Ali juga mencetuskan pesta rakyat setiap tahun pada hari jadi kota Jakarta, 22 Juni. Bersamaan dengan itu berbagai aspek budaya Betawi dihidupkan kembali, seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong dan topeng Betawi, dsb.

10. Tjokropranolo (1977 1982)


[imagetag]

Selama dia menjabat gubernur, ia sering mengunjungi berbagai pabrik untuk mengecek kesejahteraan buruh dan mendapatkan gagasan langsung tentang upah mereka. Usaha kecil juga menjadi perhatiannya. Dia mengalokasikan sekitar ratusan tempat untuk puluhan ribu pedagang kecil agar dapat berdagang secara legal. Walau begitu, kemacetan lalu lintas dan kesemrawutan transportasi kota menjapada masalah yang sulit dipecahkan. Perda yang mengatur pedagang jalanan tidak efektif, sehingga mereka masih berdagang di wilayah terlarang, menempati badan jalan, dan memacetkan lalu lintas.

11. Soeprapto (1982 1987)


[imagetag]

Dengan pengalaman kepemimpinannya, Soeprapto mencoba menangani masalah Jakarta yang kompleks. Ia memulai kepemimpinannya dengan mengajukan konsep yang pragmatis dan bersih tentang pembangunan Jakarta sebagai ibu kota dan juga wacananya mengenai sebuah kota besar. Ia menekankan konsepnya dalam wacana stabilitas, keamanan, dan ketertiban. Selain itu Soeprapto juga membuat Master Plan DKI Jakarta untuk periode 1985 2005, yang sekarang dikenal dengan Rencana Umum Tata Ruang dan Rencana Bahagian Wilayah Kota.

12. Wiyogo Atmodarminto (1987 1992)


[imagetag]

Pada masa kepemimpinannya ia secara rutin berkunjung ke berbagai tempat di Jakarta. Ia dikenal sebagai pemimpin yang terbuka dan bersikap disiplin. Di awal kepemimpinannya, dia memutuskan untuk menerapkan konsep BMW: Bersih, Manusiawi, berWibawa di Jakarta.

13. Soerjadi Soedirdja (1992 1997)


[imagetag]

Di masa kepemimpinannya, ia membuat proyek pembangunan rumah susun, menciptakan kawasan hijau, dan juga memperbanyak daerah resapan air. Adapun proyek kereta api bawah tanah (subway) dan jalan susun tiga (triple decker) yang sempat didengung-dengungkan pada masanya belum terwujud. Yang jelas, ia menyaksikan selesainya pembersihan jalan-jalan Jakarta dari becak, suatu usaha yang telah dimulai sejak gubernur sebelumnya.

14. Sutiyoso (1997 2007)


[imagetag]

Dimasa kepemimpinannya, ia meluncurkan sistem angkutan massal dengan nama bus TransJakarta atau lebih populer disebut Busway sebagai bagian dari sebuah sistem transportasi baru kota. Setelah sukses dengan Koridor I, pengangkutan massal dikembangkan ke koridor-koridor berikutnya. Ia juga mencetuskan mengembangkan sisten transportasi kota modern juga segera melibatkan subway dan monorel. Keberadaan Busway yang semula ditentang beberapa pihak terutamanya pengguna kendaraan pribadi karena mengurangi satu jalur jalan. Selain itu, pembangunan halte-halte Busway juga mengakibatkan sebagian pepohonan yang berada di pembatas jalan ditebang. Di lain pihak, Busway disambut baik penggunanya karena dianggap lebih nyaman dari angkutan umum sejenis lainnya. Bukan hanya sebagai sarana transportasi perkotaan modern untuk angkutan massal, tetapi juga dapat berfungsi sebagai bus pariwisata kota.

15. Fauzi Bowo (2007 2012)


[imagetag]

Sebagai birokrat, Fauzi telah menempuh Sepadya (1987), Sespanas (1989), dan Lemhannas KSA VIII (2000). Ia adalah wakil gubernur Jakarta di masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso. Ia mengikuti Konvensi Partai Golkar 2007. Ia adalah satu-satunya peserta konvensi yang mengembalikan formulir pendaftaran dan satu-satunya peserta yang diusung untuk jabatan gubernur. Ia juga menjadi salah satu calon gubernur yang dicalonkan Partai Bintang Reformasi. Pada tanggal 16 Agustus 2007, pasangan Fauzi Bowo Prijanto unggul dalam pilkada pertama langsung di Jakarta ini dengan 57,87% suara pemilih[1]. Fauzi Bowo menggantikan Sutiyoso sebagai Gubernur Jakarta periode 2007 2012 pada tanggal 7 Oktober 2007.

16.






Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai wali kota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya.] Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalananbisnisnya. 
Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya

Ia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI tahun 2012 dan berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama. Hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei pada hari pemilihan, 20 September 2012  mengunggulkan namanya sebagai pemenang .



sumber:wikipedia, kompas.com http://media-pintar.blogspot.com/