Selasa, 16 Oktober 2012

5 Orang ini bilang Jokowi bukan Orang Yg Tepat Jadi Gubernur DKI

5 Orang yang meragukan kemampuan Jokowi 
Gubernur DKI Jakarta terpilih, Joko Widodo hari ini dilantik menggantikan Fauzi Bowo. Jalan panjang harus dilalui Jokowi untuk menduduki jabatan DKI-1 termasuk dua kali putaran dalam pemilihan gubernur.
Sosok Jokowi yang bersahaja dan sederhana disukai para pemilih dari kalangan bawah. Apalagi gayanya saat memimpin Solo menjadi contoh yang baik bagaimana seharusnya kepala daerah mengayomi warganya.
Namun, tidak semua orang suka Jokowi. Beberapa bahkan meragukan kemampuan Jokowi memimpin ibu kota selama lima tahun ke depan. Siapa saja mereka?

1. Amien Rais

Sebagai orang Solo asli, sikap Amien Rais berbeda soal pilihan calon gubernur yang disukainya. Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu lebih memilih Fauzi Bowo (Foke) ketimbang Jokowi. Amien menyebut Jokowi bukan sosok yang tepat untuk memimpin Jakarta.

"Solo itu masih kumuh, gelap, agak miskin. Solo itu kemiskinannya tertinggi di Jawa Tengah," kata Amien di Jakarta, Rabu (19/9).

Amien juga mengaku heran mengapa Jokowi dinobatkan sebagai salah seorang wali kota terbaik di dunia. "Saya heran. Saya itu orang Solo, kalau Solo jadi wali kota terbaik di muka bumi, itu gagal dan lemah. Saya sudah keliling ke Timur Tengah, Eropa Timur, Eropa Barat, Amerika, Australia, Rusia, itu kota bagus cemerlang, rapi, hijau," katanya.

2. Dipo Alam

Mantan aktivis mahasiswa yang kini menjadi Sekretaris Kabinet ini adalah salah satu tokoh yang meragukan kemampuan Jokowi.

"Jokowi adalah Wali kota Solo yang hanya mengelola lima kecamatan dengan jumlah penduduk 505.000 orang saja," katanya.

Dipo juga menyindir wakil Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang yang pengalamannya hanya sebagai Bupati Belitung Timur dengan jumlah penduduk 205.000 orang saja.

"Bayangkan kalau keduanya memimpin Jakarta dengan jumlah penduduk belasan juta jiwa dengan permasalahan yang begitu kompleks. Kota kecil, kecil permasalahannya. Kota besar, besar pula permasalahannya," cetus Dipo.

3. Pardi

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari  DKI Jakarta, Pardi termasuk salah satu tokoh yang meragukan Jokowi. Keraguannya itu didasarkan pada kemampuan Jokowi memahami data-data berbagai persoalan di Jakarta.

"Pemahaman masih lemah, Jokowi belum pantas menjadi gubernur DKI Jakarta," kata Pardi, Agustus lalu.

Sebagai salah satu anggota DPD yang mewakili masyarakat Jakarta, dia mengkritisi cagub yang berkampanye asal ucap atau asal janji.

"Jangan karena ingin mencitrakan, lantas berupaya mendiskreditkan lawan dengan memberikan dan mengarahkan pemahaman yang keliru kepada masyarakat. Itu cara yang tidak benar," ungkapnya menyindir Jokowi.

"Saya melihat, dalam kampanye dan berbagai pernyataan Jokowi-Ahok hanya untuk mencari popularitas," pungkasnya.

4. Adolf Hauken

Kemenangan Jokowi dalam dua putaran pemilihan gubernur DKI Jakarta menandakan harapan besar warga Jakarta akan perubahan terhadap berbagai persoalan yang tak bisa dikerjakan Fauzi Bowo.

Adolf Heuken, pendeta Jesuit yang juga penulis buku dan ahli tentang Jakarta melihat harapan masyarakat Jakarta pada Jokowi seperti harapan masyarakat Amerika Serikat pada Barack Obama pada pemilu 2008.

Bahkan, pendeta kelahiran Jerman ini menjelaskan, orang paling pandai sekali pun tidak akan bisa mengurus Jakarta. Heuken menilai, Jakarta sudah kehilangan arah pembangunan.

"Saya malah kasihan kepada Jokowi, kenapa dia mau memimpin kota ini. Masalah kota ini kompleks, padahal harapan masyarakat terlalu besar, saya takut dia dimarahi jika tidak sesuai harapan," kata Adolf Heuken, saat ditemui merdeka.com.

Dia menjelaskan, gubernur setelah Ali Sadikin, hanya menikmati saja, tanpa berusaha untuk terus memperbaiki. "Ada rancangan besarnya, tapi itu diubah-ubah. Teorinya ada tapi pada praktiknya tidak ada," ujar Heuken.

5. Sutan Bhatoegana

Politikus Partai Demokrat ini dikenal ceplas-ceplos dalam menyatakan pendapatnya. Sutan Bhatoegana termasuk yang sangat meragukan kemampuan Jokowi menjadi gubernur DKI Jakarta.

Jakarta lebih aman bila dibandingkan dengan Solo, demikian kata Sutan. Dia menyindir aksi teror yang belakangan terjadi di Kota Solo.

"Dibanding tempat-tempat lain, Solo kan kocar-kacir, itu harus dimunculkan. Kan boleh-boleh saja, itu fakta tapi gak fitnah kan. Yang gak boleh itu kan fitnah. Seperti teroris yang ada di Solo," tegas Sutan.


sumber:merdeka.com