Kamis, 11 Oktober 2012

Haji Mangan, si pencetus Jakarta Fair yang terlupakan

Sebagai kota tertua, Jakarta punya banyak cerita. Tak hanya soal budaya yang beragam, ibu kota negara Indonesia ini juga mempunyai banyak sejarah yang sampai kini masih terus dilaksanakan dan menjadi sebuah ciri khas, seperti Djakarta Fair atau Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ).


Tahun ini, PRJ sendiri sudah yang ke 45 kali diselenggarakan di Indonesia. Tidak ada tanggal khusus sebagai tanda pembukaan kegiatan ini. Hanya saja biasanya event PRJ berdekatan dengan HUT DKI Jakarta yang jatuh pada tanggal 22 Juni.

Setiap kegiatan ini digelar, tak hanya warga DKI, masyarakat luar daerah pun datang berbondong-bondong ke JI Expo Kemayoran, tempat acara itu saban tahun digelar. Meski judul acara ini pekan raya, tetapi pada kenyatannya event Jakarta Fair dilaksanakan selama satu bulan penuh.

Dari ribuan orang yang datang ke tempat itu, mungkin hanya sebagian kecil yang paham asal muasal PRJ menjadi acara tahunan di Jakarta. Mereka yang datang ke tempat itu bukan karena ingin tahu sejarah Jakarta Fair tapi lebih karena berebut promo atau diskon besar-besaran yang ditawarkan brand-brand terkemuka.

Berdasarkan penelusuran merdeka.com, Minggu (24/6), kegiatan Pekan Raya Jakarta pertama kali diadakan saat Jakarta dipimpin oleh Bang Ali, sebutan akrab untuk Gubernur Ali Sadikin. Pameran tahunan terbesar di Indonesia itu pertama kali digelar pada tahun 1968. Namun di zaman Bang Ali, namanya masih dalam ejaan lama yaitu Djakarta Fair (DF).

Sebelum Jakarta memiliki Kawasan Niaga Kemayoran atau yang kini menjadi JI Expo, perhelatan PRJ dari tahun 1968 sampai 1991 selalu dilaksanakan di Taman Monumen Nasional (Monas). Di peresmian pertama eventnya dulu, almarhum Presiden Soeharto pun ikut membuka dengan cara melepas merpati pos.

Ide PRJ ini pertama kali digagas oleh Syamsudin Mangan yang lebih dikenal dengan Haji Mangan yang saat itu menjabat sebagai Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri). Saat itu, Haji Mangan coba menawarkan konsep pameran dengan gaya yang tak biasa di Jakarta kepada Bang Ali. Ide itu sengaja Haji Mangan tawarkan ke Bang Ali untuk membangkitkan kembali gairah pemasaran produksi dalam negeri pasca pemberontakan G30S tahun 1965.

Bang Ali tak butuh banyak waktu untuk berpikir dan menyetujui usulan Haji Mangan. Di pandangan Bang Ali, kegiatan ini juga ada baiknya, yaitu menyatukan kegiatan pasar malam yang kala itu sedang marak-maraknya di Jakarta salah seperti Pasar Malam Gambir. Dengan adanya event ini, nantinya pasar malam akan terkumpul di satu titik ini yaitu Djakarta Fair selama satu bulan penuh.

Ide Haji Mangan bukan ide asal-asalan yang lahir dalam satu malam renungannya. Dia berani mempromosikannya ke Bang Ali setelah melihat keberhasilan pameran internasional dengan konsep yang sama. Di luar negeri dia melihat event ini mampu menarik pengusaha besar untuk memberikan sumbangsihnya.

Di awal penyelenggaraanya, Bang Ali melihat PRJ cukup sukses dan mendapat perhatian publik. Di tahun pertama, Djakarta Fair 1968 (DF) mampu menyedot pengunjung tidak kurang dari 1,4 juta orang. Di tahun berikutnya, Djakarta Fair 1969 bahkan bisa memecahkan rekor penyelenggaran PRJ terlama karena memakan waktu penyelenggaraan 71 hari. Presiden AS pada waktu itu Richard Nixon datang ke Indonesia, sempat mampir ke DF 69.

Sadar kegiatan ini bisa memberikan dampak positif untuk perekonomian DKI dan warga ibu kota, Bang Ali lantas memerintahkan anak buahnya untuk menyempurnakan kegiatan ini dalam Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.

Agar penyelenggaraannya lebih tertata dan terprogram, Pemda menggandeng pihak swasta yaitu Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta. Yayasan itulah yang mengelola PRJ sepanjang tahun.

Seiring berjalannya waktu, event ini semakin sukses dan menujukkan perkembangan positif. Akibatnya, areal Monas yang luasnya hanya tujuh hektar sudah tak mampu lagi menampung jumlah peserta dan warga yang berkunjung. Itulah yang menyebabkan PRJ dipindah ke Kawasan Niaga Kemayoran, Jakarta Pusat, yang memiliki luas hampir 44 hektar.

Panitia selalu berharap event ini terus membangkitkan semangat promosi produk dalam negeri, yang dapat meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat. Tahun lalu saja, peserta PRJ mencapai 2.600 perusahaan dengan 1.300 stan. Jumlah pengunjung pun hampir mencapai 4 juta orang selama 32 hari, atau 125 ribu pengunjung per hari, dan keuntungan yang dapat tahun itu mencapai triliunan.

Tak hanya pameran produk, Jakarta Fair kini juga dimeriahkan dengan pentas musik, pesta kembang api, malam muda mudi dan pemilihan Miss Jakarta Fair.

Tepat di hari jadinya yang ke 485, event PRJ dengan tema 'Majulah Jakartaku' kembali digelar di JI Expo mulai 14 Juni sampai 15 Juli mendatang. Namun, sosok Haji Mangan tampaknya terus terlupakan. Padahal tanpa ide kreatifnya itu, Indonesia khususnya Jakarta mungkin masih bermimpi bisa menyelenggarakan pameran terbesar seperti PRJ.