Sabtu, 03 November 2012

Ternyata Twitter jadi Tumpuan Informasi Saat Badai Sandy










Di balik banyaknya kritikan atau tudingan negatif terhadap media sosial karena seringkali terjadi penyebarluasan rumor dan rekayasa gambar, kala bencana terbukti media sosial tetaplah penyelamat ketimbang "pengacau."

Mengutip artikel oleh Reuters, yang diturunkan Rabu (31/10); peranan media sosial yang mulai menarik perhatian sejak saat bencana gempa dan tsunami Jepang, kembali nampak. Kali ini saat topan Sandy di perairan Atlantik tengah melanda Manhattan, New York, serta kota lainnya di sebagian wilayah Pantai Timur Amerika Serikat.
Media jejaring sosial layaknya Twitter diperhitungkan publik. Twitter efektif dimanfaatkan sebagai bagian dari kawat berita. Terutama ketika jaringan listrik lumpuh dan beberapa situs berita gagal mengirimkan berita perkembangan situasi yang tentunya krusial tatkala bencana topan tiba.
Tak terhitung jumlah pengicau (sebutan bagi pengguna Twitter) yang melaporkan kondisi lapangan hingga berbagai hal terkait. Menunjukkan jaringan Twitter sangat esensial --meski amat berpeluang keliru-- dalam penyampaian arus informasi secara real time.
Apalagi kini kerentanan informasi keliru dari sumber media seperti Facebook dan Twitter rupanya dapat diminimalisir dengan memperkuat landasan dari akun badan pemerintah resmi atau media berita seperti CNN.
Sudah semenjak hari Minggu (28/10) pula, badan-badan pemerintah AS mulai merilis akun mereka di Twitter. Bermaksud mengabarkan seputar bencana, penanganan, sampai pemberitahuan darurat. Di antaranya Federal Emergency Management Agency (@FEMA), Fire Department (@fdny), dan termasuk kantor Wali Kota New York.
Bersamaan dengan itu, permintaan bantuan lewat Twitter meningkat. Akun @fdny kebanjiran permintaan menjelang badai menerjang New York, Senin (29/10) malam. Salah satunya, seorang lansia yang membutuhkan pertolongan evakuasi dari gedung di Manhattan Beach.
Sementara di pusat Palang Merah Washington D.C., terdapat sebuah ruangan khusus Digital Operations Center di mana dipantau terus-menerus arus informasi terkini dari media sosial. Selain itu, juga ada visual dari pemetaan panas (heat map) yang bisa memberi informasi mengenai pengerahan para sukarelawan Palang Merah.
"Palang Merah menggunakan Radian6, perangkat monitor media sosial untuk melacak orang-orang yang mencari bantuan dan menjawab pertanyaan mereka," kata Wendy Harman, Director of Social Strategy.
Menurut studi dari sosiolog University of Colorado, Jeannette Sutton, para lembaga pemerintahan dahulu belum beralih dan cenderung skeptis menggunakan media sosial selama manajemen bencana alam.
"Sebab ada masalah besar soal validitas informasi," beber Sutton. Namun ditambahkannya, saat ini fenomena media sosial sudah tidak mungkin dibendung. "Sekarang kalau Anda tidak menjadi bagian dalam percakapan (di media sosial), Anda akan tertinggal segala informasi."
(Gloria Samantha. Sumber: Reuters/Jakarta Post)