Minggu, 07 Juli 2013

Ramadhan Ulangan !?

NSYA ALLAH, Ramadhan mendatang, tiada beda tahun lalu. Yah puasa, ya sahur, ya buka, ya tarwih, khatamkan juz-juz Al-Qur’an, sholat sunnah diaktifkan, acara buka puasa di sana sini, eksploitasi anak yatim-piatu, orang-orang miskin atas nama ekshibisi orang-orang kaya. Itu memang tak salah kok.
Ramadhan laksana lomba maratonlah. Awalnya pesertanya membludak, masjid full, ujungnya sepi. Tinggal akik-akik dan ninik-ninik di masjid. Tiada yang istimewa. Tivi-tivi pada insyaf, artis bertobat, koruptor bertasbih, uztad panen, remaja pacaran di ajang asmara subuh. Balapan liar, perampokan jelang lebaran, dan tabrakan maut setiap mudik, seolah itu adalah jadwal kematian tahunan. Zakat juga begitu, masihlah melanjutkan budaya ‘zakat maut’. Orang-orang miskin dipaksa bertempur, sabung nyawa demi tiga liter beras dan demi uang 20 ribu perak. Sesungguhnya ini iklan memalukan atas wajah umat Islam di sekililing kita.
Puasa sambil bergunjing, itu juga sama tahun lalu. Mall sesak di 10 ramadhan terakhir, pun akan sama. Politikus bersafari ramadhan, lengkap dengan pici bahkan mungkin surban. Duh, keren sekali dipandang mata. Di masjid, saat membangunkan orang bangun sahur, dugaanku sama tahun lalu. Geger dan kurang Islami, kurang ukhuwah. Bahkan menggangu pemeluk agama lain yang sedang tertidur pulas.
Peringatan Nuzulul Qur’an pun akan sama, tak lebih dari dongeng dari para da’i. Yang menanti Lailatul Qadar kerap dijadikan lelucon. Sofa-sofa baru juga tak luput dari incaran para pelaksana puasa (shaum). Surah Al-Baqaroh: 183 laris manis dilafazkan dengan datar tanpa ‘makna’ apa-apa. Hadits-hadits pun laku keras, disimak begitu saja tanpa mampu meresapi ‘ucapan-ucapan’ Rasulullah dengan sedalam-dalamnya. Bahkan memiriskan, hadirlah da’i yang envelopisme, pilih-pilih masjid untuk ceramah. Malah Imam masjid saya di kompleks saya, menghilang selama ramadhan. Entah dimana beliau dikontrak. Kata istriku: “Imam masjid kita juga manusia papa”.
Bulan Ramadhan yang ‘dicemburui’ 11 bulan di hijriah, kabarnya karena istimewanya bulan ramadhan. Ah, sepertinya bulan-bulan lain gak cemburu lagi. Malah bulan lain prihatin akan ramadhan. Sebab, di zona ramadhan, justru umat Islam aktif memboros, berbuat berlebih-lebihan dan i’tikaf di pusat perbelanjaan. Apa misi ramadhan yang kabarnya menaklukkan hati dan nafsu, pun tak terjadi. Memercantik fisik lebih utama ketimbang membusanakan hati dan seluruh jiwa. Belum lagi ‘kemunafikan’ justru kerap terjadi di ajang mudik, pertunjukan materi tak jarang terjadi. Enggan disebut sebagai perantau gagal, mereka rental mobil dan mengaku sebagai mobil pribadi. Itu faktanya.
Belum lagi, hadirnya muallaf membuat sebagian orang terharu, dan meneteskan air mata atas kedatanagan saudara barunya. Sedang mereka dipaksapun menangis, dia takkan menangis atas lapar-dahaganya Si Fulan di tetangga sebelah. Demikianlah potret ramadhan yang tersia-siakan setiap tahunnya. Datang dan perginya ramadhan, kadang tiada jelas defenisinya: disenyumi atau ditangisi...!. Wallahu a’lam bissawab^^^

dikopas dr kompasiana,penulis:Muhammad Armand,Lahir di Polmas-Sulawesi Barat. Ikatan Alumni Universitas Indonesia. Mengajar di Universitas Sultan Hasanuddin, Makassar-Sulawesi Selatan. Etnis Mandar. Islam Sunni,link asli

kitalah yang bisa membuat ramadhan ini beda..biarkan yang lain seolah rutinitas,,namun masing pribadi mulailah untuk meniatkan berbeda